ANAK SEORANG TERORIS
MASJIDIL HARAM naik pangkat jadi KOLONEL
Hathal bin Juhayman al-Otaybi,
putra seorang teroris yang menyerang/menduduki/merebut Masjidil Haram, Makkah,
pada tahun 1979, yang dibayangi/ditakuti akan mewarisi paham radikal ayahnya,
tahun lalu dipromosikan ke posisi Kolonel di Pengawal Nasional Arab Saudi
(Tentara Saudi).
Munculnya peristiwa menggemparkan dunia di Arab Saudi ini dimulai ketika pada tanggal 20 November 1979, ayah Hathal bersama-sama sekelompok 200 hingga 300 (sumber lain sebanyak 500) orang yang dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi menyerbu Masjidil Haram Makkah. Insiden itu berlangsung lebih dua minggu dan ratusan orang tewas sebagai akibatnya.
Hathal baru berusia satu tahun ketika ayahnya menyerang Masjidil Haram waktu itu. Juhayman dan para pengikutnya semuanya dihukum pancung.
Sekarang ini putra Juhayman, Hathal, naik ke pangkat Kolonel. Kemungkinan karir Hathal yang cemerlang ini, putra seorang teroris, menyerbu Baitullah/Masjidil Haram, tidak akan terjadi di Indonesia, apalagi di jaman Suharto. Sebaiknya masyarakat kita harus lebih bijak dalam menilai seseorang dan jangan mengait-ngaitkan masalah keturunan. Apakah seseorang itu keturunan PKI, maling, orang kafir/musyrik, teroris bahkan juga keturunan pahlawan, orang besar dll. Nilailah seseorang itu apa adanya saat ini.
Alloh tidak akan memasukkan
seseorang ke Neraka hanya karena dia itu turunan orang2 Musyrik/Kafir.Munculnya peristiwa menggemparkan dunia di Arab Saudi ini dimulai ketika pada tanggal 20 November 1979, ayah Hathal bersama-sama sekelompok 200 hingga 300 (sumber lain sebanyak 500) orang yang dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi menyerbu Masjidil Haram Makkah. Insiden itu berlangsung lebih dua minggu dan ratusan orang tewas sebagai akibatnya.
Hathal baru berusia satu tahun ketika ayahnya menyerang Masjidil Haram waktu itu. Juhayman dan para pengikutnya semuanya dihukum pancung.
Sekarang ini putra Juhayman, Hathal, naik ke pangkat Kolonel. Kemungkinan karir Hathal yang cemerlang ini, putra seorang teroris, menyerbu Baitullah/Masjidil Haram, tidak akan terjadi di Indonesia, apalagi di jaman Suharto. Sebaiknya masyarakat kita harus lebih bijak dalam menilai seseorang dan jangan mengait-ngaitkan masalah keturunan. Apakah seseorang itu keturunan PKI, maling, orang kafir/musyrik, teroris bahkan juga keturunan pahlawan, orang besar dll. Nilailah seseorang itu apa adanya saat ini.

No comments:
Post a Comment